
Sosok pria tak tergantikan yang sungguh menjadi kebanggaan tiga putrinya. Pekerja keras yang mudah lelah sehingga sering tertidur di hari Minggu dan lupa ke gereja. Namun ia menjadi Ayah yang selalu mengajarkan indahnya hidup karena Tuhan itu ada. Bapak yang tidak pernah lupa mengabsen semua pintu kamar anaknya di malam hari sambil berkata tidur ya-padahal anaknya masih sibuk online untuk hal yang ga penting. Pria yang sangat konservatif, memegang teguh tradisi adat budaya kebatakan, berpikiran lurus karena jam 9 malem aja gue sudah ditelponin suruh pulang dan ga boleh punya pacar sampe gue selesai S2. Pahlawan di rumah karena sering mendadak masak kalau ga ada makanan, walau rasanya memang harus diakui harus lebih banyak berlatih. Sosok yang kuat dan pintar, meski ga bisa nyetir mobil, berenang, menyanyi, dan gaptek, tapi bisa metode penelitian sosial, statistika sosial, serta ilmu berhitung lainnya. Satu-satunya orang yang selalu sisirin rambut dan potongin kuku gue, anytime, anywhere. Pria yang selalu memeluk gue saat tahu gue gagal ketika melakukan sesuatu. Pencari nafkah yang rela kalau gue sering beli sepatu, tapi jarang ada yang dipake. Pria paling tegar yang pernah gue lihat, disaat kami menangis dia selalu menahan tangisnya. Ayah yang dengan senyum mengembang melambaikan tangan ketika ketiga malaikat ciliknya berangkat sekolah dan ngampus, meski gue tau dia pasti cape banget pulang malem harus bangun pagi-pagi.
Ia sosok pria ideal yang selalu ingin gue miliki. Dari berjuta kesalahan yang pernah gue buat, selalu terselip satu harapan untuknya. Selalu terselip keinginan untuk menjaganya seperti ia menjaga tiga monster ciliknya. Gue hanya ingin orang lain mengenalnya, bukan sebagai ayah, tapi sebagai pribadi yang menyenangkan dan membanggakan.
Trust me. You will love him, just like us.



