Jumat, Mei 15, 2009

Indra Catarya Situmeang

Beberapa hari yang lalu, gue sempet baca artikel perayaan sederhana dari ulang tahun Rosihan Anwar, the legend. Simple, unique, and meaningful. Beliau merayakannya bersama keluarga besar: istri yang istimewa, karena meski terkena stroke namun mencoba bertahan untuk duduk berfoto plus tersenyum , anak, cucu, dan cicit lengkap dengan baju kembaran semua serba putih. Mereka foto bersama di halaman rumah (kayaknya) dan tersenyum mengapit Rosihan di tengahnya. Lalu gue mulai berpikir tentang keluarga gue. Tepatnya, bokap gue. 





Sosok pria tak tergantikan yang sungguh menjadi kebanggaan tiga putrinya. Pekerja keras yang mudah lelah sehingga sering tertidur di hari Minggu dan lupa ke gereja. Namun ia menjadi Ayah yang selalu mengajarkan indahnya hidup karena Tuhan itu ada. Bapak yang tidak pernah lupa mengabsen semua pintu kamar anaknya di malam hari sambil berkata tidur ya-padahal anaknya masih sibuk online untuk hal yang ga penting. Pria yang sangat konservatif, memegang teguh tradisi adat budaya kebatakan, berpikiran lurus karena jam 9 malem aja gue sudah ditelponin suruh pulang dan ga boleh punya pacar sampe gue selesai S2. Pahlawan di rumah karena sering mendadak masak kalau ga ada makanan, walau rasanya memang harus diakui harus lebih banyak berlatih. Sosok yang kuat dan pintar, meski ga bisa nyetir mobil, berenang, menyanyi, dan gaptek, tapi bisa metode penelitian sosial, statistika sosial, serta ilmu berhitung lainnya. Satu-satunya orang yang selalu sisirin rambut dan potongin kuku gue, anytime, anywhere. Pria yang selalu memeluk gue saat tahu gue gagal ketika melakukan sesuatu. Pencari nafkah yang rela kalau gue sering beli sepatu, tapi jarang ada yang dipake. Pria paling tegar yang pernah gue lihat, disaat kami menangis dia selalu menahan tangisnya. Ayah yang dengan senyum mengembang melambaikan tangan ketika ketiga malaikat ciliknya berangkat sekolah dan ngampus, meski gue tau dia pasti cape banget pulang malem harus bangun pagi-pagi. 
Ia sosok pria ideal yang selalu ingin gue miliki. Dari berjuta kesalahan yang pernah gue buat, selalu terselip satu harapan untuknya. Selalu terselip keinginan untuk menjaganya seperti ia menjaga tiga monster ciliknya. Gue hanya ingin orang lain mengenalnya, bukan sebagai ayah, tapi sebagai pribadi yang menyenangkan dan membanggakan. 
Trust me. You will love him, just like us.

Selasa, April 28, 2009

Salah Kaprah

Sebener-benernya malam ini gue harus belajar buat kuis statistik sosial besok pagi. Tapi karena otak gue sulit bertahan dalam keadaan belajar, maka jadilah gue kembali mengisi blog gue dengan hal-hal yang ehem, absurd. Sebelumnya gue harus minta maaf ke pacar yang telah dengan susah payah marahin gue buat belajar tapi beneran deh otak ini susah sekali berteman dengan rumus. Maaf ya tuyul, habis ngeblog aku belajar deh :):):):):)
Beberapa hari yang lalu, gue dan Odah (nama samaran) sempat membicarakan sesuatu yang ga penting, tapi keesokan harinya gue sadar kalau itu penting (?!?). Ya, alkisah si Odah nonton iklan tentang Malaysia yang (katanya) truly Asia itu. Dia lihat ada es cendol dan tarian apa gitu (gue lupa) di dalam iklan negara tetangga kita yang super deket ini. Nah, besok paginya saat matahari terang benderang dan dapat dipastikan gue bisa melihat dengan jelas, di tengah perjalanan ke kampus gue liat ada billboard yang mega besar dengan GAMBAR BUNGA BANGKAI, sekali lagi gue ulang: bunga bangkai-yang-katanya-mega-bau-tapi-gue-belum-pernah-cium sebagai salah satu icon Malaysia. Bahkan Manohara yang super cantik itu sudah ikut-ikutan resmi menjadi icon baru Malaysia. Hehehe.
Lalu gue mulai berpikir. Kita sempet musuhan sama negara itu gara-gara batik kan? Gue ga tau sih mana yang bener dan mana yang salah. Mana yang memang kebudayaan Malaysia dan mana yang kebudayaan Indonesia. Apalagi Indonesia dan Malaysia biasa disebut negara serumpun. Lebih-lebih lagi, gue sudah mulai makan es cendol dari kecil (ga nyambung). 
Dalam hal ini gue tidak menyalahkan pihak manapun sih, dan tidak bermaksud menyudutkan pihak manapun. Hanya saja gue sempet bertanya-tanya, memangnya kita kembar identik ya? Kenapa semua tradisi dan kebudayaan kita terkesan sangat mirip ya ya ya? Mungkin sebentar lagi akan ditemukan kalau ulos-kain-kebanggaan-opung-gue bukanlah dari Sumatra Utara dan saksang-makanan-paling-nikmat-sejagat-raya-ini ga seharusnya dijual di lapo, dan kalian bisa menemukan gue binasa di tengah kandang babi menangis karena gue ga bisa makan saksang lagi. Gue sadar gue ga bisa berbuat apa-apa. Ngurus kuliah aja ga bener, prasar aja ga ikut, kalau gue sotoy ngurus beginian, orang hanya akan memandang gue sebelah mata. Tapi harus gimana dong?



Oke, gue ngepost tulisan ini tanpa maksud menyinggung pihak manapun. Kesamaan nama dan tempat hanyalah fiktif belaka. Dikarenakan gue ga mungkin nulis di surat pembaca, tajuk rencana, apalagi bagian depan koran, dan bingung mau nulis dimana lagi, akhirnya blog ini menjadi persinggahan terakhir yang gue rasa cukup tepat untuk bertukar pikiran. Mohon banget jangan ada yang tersinggung apalagi mau menggugat gue gara-gara tulisan ini, cukup banget gue digugat dengan masalah Pemira. :):)

Sabtu, April 18, 2009

Pemilihan Berencana

Gue agak ingin bercerita tentang kesibukan Pemilu yang telah terlaksana dua minggu lalu. Entah kenapa Pemilu di komplek rumah gue terkesan sangat berlebihan. Konsep berlebihan atau tidak memang relatif sih, tapi suer, gue berani jamin ini memang berlebihan. Mungkin sudah jadi hal biasa bagi para tetangga, tapi jujur, sangat tidak buat gue. Mengapa?
1. Menurut titah pak RT, tembok pager-pager tembok rumah gue harus kembali dicat, padahal saat itu keadaannya jauh dari kebutuhan untuk dicat ulang, katanya biar pas di-shoot terlihat cakep
2. Rumah pak RT yang persis di depan rumah gue disulap jadi TPS-bergengsi-pake-tenda-heboh-banget-kayak-mau-kawin bikin gue sempet bingung seminggu sebelum mulai Pemilu dan akhirnya berpikir, tenda mahal kayak gitu mungkin seperseratus bagiannya dibayar pakai duit bulanan yang disetor bapak gue buat RT, padahal gue makan aja susah
3. Warga yang memberikan suaranya datang memakai sepatu hak tinggi dan full make-up (dan gue berani sumpah ini bukan tanda kesirikan gue, please deh, gue bahkan ga peduli muka gue kayak apa bentuknya pas nyoblos, eh nyontreng)
4. Banyak banget wartawan di depan rumah bikin berisik dan sumpek, saat gue keluar cuman pake kaos dengan celana pendek selutut, dan sandal jepit, gue ampe dipelototin seakan gue pernah ngebom rumah Soeharto

Dan setelah gue tuliskan beberapa alasan tidak penting di atas, setujukah anda bahwa Pemilu di komplek rumah gue berlebihan?

Jumat, April 17, 2009

Berubah, Terubah, Perubahan

Belakangan ini saya berusaha memahami betul arti berubah. Bukan berubah! seperti power rangers, tapi seperti kecebong menjadi katak, dan kepompong menjadi kupu-kupu. ...
Ya, sebenarnya, bukan itu juga yang ingin saya bicarakan. Tapi kalau umur saya berubah, perilaku berubah, berat badan turut berubah, ternyata teman-teman lama saya juga harus ikut turut berubah, terubah, dan mengalami perubahan. Ini memang akibat ulah saya. Tapi sedih rasanya harus kehilangan teman yang selama ini saya sahkan sebagai teman terbaik selama 20 tahun bertahan hidup. Sedih rasanya, saat teman yang begitu saya agungkan harus lepas dari pegangan, saat banyak memori berkecamuk mengumbar tawa dan air mata, tapi sekarang harus pergi membelakangi saya tanpa pamit. 
Saya tidak menyalahkan siapa-siapa selain diri sendiri. Kehilangan memang cepat atau lambat akan datang ketika saya memiliki sesuatu. Tapi terkadang boleh kan saya memohon untuk tidak kehilangan apapun yang telah saya miliki. Rasanya kenapa harus begitu menyakiti saat kita mengawali semuanya dengan mengerti.
Semua memang karena saya. Benar kata Brigitta, sudah saatnya saya mencari teman baru, teman terbaik yang baru. Saya harus bisa menjalani kehidupan saya sendiri, tanpa terus menyesali kehilangan (mantan) teman-teman terbaik. Hidup saya, hanya saya yang menentukan.

Minggu, April 12, 2009

Away We Go

Genre: Comedy
Director: Sam Mendes









Discover "home" on their own terms for the first time.